1. Sel Elektrokimia
Jika aliran elektron pada reaksi redoks dilewatkan pada kawat
penghantar maka akan terjadi listrik. Cabang ilmu kimia yang mempelajari
hubungan antara reaksi redoks dan energi listrik disebut Elektrokimia.
Fenomena listrik tersebut, pertama kali dipelajari oleh Luigi Galvani
(1737–1798), seorang dokter dan ilmuwan Italia. Pada tahun 1780, Galvani
mengamati bahwa otot kaki katak yang sudah mati, bisa bergerak jika disentuh
oleh dua logam berbeda, seperti gambar berikut.
Fenomena ini disebut dengan “listrik hewan” (animal electricity), yang menjadi titik awal perkembangan bidang bioelektrokimia dan neurofisiologi. Hal ini karena adanya hubungan antara listrik dan aktivitas biologis.
Seorang ahli fisika asal Italia, Alessandro Volta (1745–1827),
menanggapi penelitian Galvani, bahwa listrik timbul karena adanya kontak dua
logam berbeda. Volta melakukan percobaan dengan menumpuk lempeng logam berbeda
(tembaga dan seng), dipisahkan dengan kain yang dibasahi larutan garam atau
asam. Hasilnya, terjadi arus listrik yang stabil dan terus-menerus, seperti
gambar berikut.
Penemuan ini kemudian dikenal dengan sel Volta (Voltaic cell)
atau tumpukan Volta (Voltaic pile), yang menjadi baterai pertama di
dunia. Penemuan Volta merupakan dasar lahirnya elektrokimia modern dan menjadi
awal perkembangan baterai, aki, hingga teknologi listrik yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Sel
yang mampu mengubah reaksi redoks menjadi listrik disebut Sel Elektrokimia.
2. Sel Volta
Sel Volta adalah model dasar sel elektrokimia yang terdiri atas
elektroda (logam) dan elektrolit yang menghasilkan arus listrik. Prinsip kerja
sel volta menghasilkan arus listrik adalah aliran transfer elektron dari reaksi
oksidasi di anode ke reaksi reduksi di katode melalui rangkaian luar, seperti
gambar berikut.
Berdasarkan gambar tersebut, dapat ditemukan komponen penyusunnya, yakni:
1) Anode, yaitu elektrode tempat terjadinya reaksi oksidasi (½ sel
oksidasi);
2) Katode, yaitu elektrode tempat terjadinya reaksi reduksi (½ sel
oksidasi);
3) Elektrolit, yaitu zat yang dapat menghantarkan listrik;
4) Kawat konduktor yang menghubungkan anode dengan katode;
5) Jembatan garam, terdiri dari larutan garam yang memungkinkan adanya
aliran ion-ion dari ½ sel anode ke ½ sel katode sehingga
terbentuk rangkaian listrik tertutup;
6) Voltmeter atau lampu untuk menguji adanya arus listrik.
Reaksi redoks menyebabkan terjadinya pelepasan
dan penangkapan elektron. Jika elektron yang lepas dialirkan melalui kawat
penghantar, maka terjadi aliran elektron yang bermuatn negatif. Bersamaan
dengan hal tersebut pada arah berlawanan terjadi aliran muatan positif yang
menghasilkan arus listrik.
Elektron mengalir dari elektrode seng (Zn) sebagai
anode yang melepaskan elektron menuju ke elektrode tembaga (Cu) sebagai katode yang
menangkap elektron. Agar terjadi pelepasan elektron, maka elektrode Zn
dimasukkan ke dalam larutan elektrolit yang mengandung ion Zn2+, misalnya
ZnSO4, terjadi reaksi ionisasi:
ZnSO4 (aq) ® Zn2+
(aq) + SO42- (aq)
Pada anode terjadi reaksi oksidasi (melepaskan
elektron), yakni:
½ Reaksi Oksidasi (Anode): Zn (s) ® Zn2+
(aq) + 2e
Logam Zn mengalami reaksi oksidasi, sehingga
lama kelamaan keropos dan ion Zn2+ terlarut dalam larutan
elektrolit. Akibatnya, terjadi kelebihan ion Zn2+ yang diseimbangkan
oleh aliran ion negatif (SO42-) dari jembatan garam.
Elektrode Cu sebagai Katode dimasukkan ke dalam
larutan elektrolit yang mengandung ion Cu2+, misalnya, CuSO4,
terjadi reaksi ionisasi:
CuSO4 (aq) ® Cu2+
(aq) + SO42- (aq)
Pada katode terjadi reaksi reduksi (menangkap
elektron), reaksinya:
½ Reaksi Reduksi (Katode): Cu2+ (aq) + 2e ® Cu (s)
Ion Cu2+ yang bersumber dari larutan
elektrolit menangkap elektron sehingga menimbulkan padatan yang mengendap pada
logam Cu. Akibatnya, katode lama kelamaan dilapisi oleh Cu murni.
Jika kedua reaksi pada anode dan katode
dijumlahkan maka terjadi reaksi redoks (reaksi sel elektrokimia), sebagai
berikut.
½ Reaksi Reduksi (Katode) : Cu2+
(aq) + 2e ® Cu (s)
½ Reaksi Oksidasi (Anode) : Zn (s)
® Zn2+
(aq) + 2e
___________________________________________________
Reaksi Redoks (Reaksi Sel) : Zn
+ Cu2+ ® Zn2+ + Cu
Reaksi sel dapat ditulis dengan Notasi Sel
(Diagram Sel) sebagai berikut.
Notasi sel : Zn / Zn2+
// Cu2+ / Cu
Anode/Oksidasi
// Katode/Reduksi
3. Potensial Reduksi
Standar (E0red)
Setiap elektrode memiliki harga potensial
reduksi standar (Eored) tertentu. Harga Eored
merupakan reaksi reduksi suatu elektrode yang harganya ditetapkan setelah
membandingkannya dengan Potensial Reduksi Hidrogen Standar (Eored
H2). Harga Eored (H2)
ditetapkan = 0,00 volt. Dengan demikian harga Eored
elektrode lainnya dapat ditentukan, seperti gambar berikut.
Berdasarkan gambar, voltmeter menunjukkan angka
0,76 volt. Elektrode Zn melepaskan elektron atau positif mengalami reaksi oksidasi. Sehingga, harga
potensial reduksi standar (Eored) Zn adalah negatif,yakni
-0,76 Volt.
Reaksi reduksi dan harga Eored, ditulis:
Zn2+ (aq) + 2e ® Zn (s)
; Eored = -0,76
Volt
Beberapa harga Potensial Reduksi Standar (Eored), seperti pada tabel berikut.
4. Potensial sel
Energi listrik yang dihasilkan pada sel Volta disebut dengan Potensial Sel (Esel). Misalnya:
Berdasarkan gambar, maka:
½ Reaksi Reduksi: Ag+ + e ® Ag
½ Reaksi Oksidasi: Cu ® Cu2+ + 2e
Reaksi Redoks adalah: Cu + 2Ag+ ® Cu2+ + 2Ag
Notasi Sel adalah: Cu/Cu2+//Ag+/Ag
Harga Potensial Sel (Esel) adalah: +0,46 Volt
Besarnya Esel bergantung pada harga
potensial masing-masing elektrode (katode dan anode). Harga Eosel
dapat ditentukan dari harga Eored masing-masing
elektrode.
Berdasarkan harga Eored,
dapat dihitung besarnya harga Potensial Sel Standar (Eosel),
dengan rumus, sebagai berikut.
Eosel = Eored (katode) - Eored (anode)
Contoh:
Hitunglah Eosel untuk sel
elektrokimia yang Notasi Sel-nya adalah: Al/Al3+//Cu2+/Cu
Jawaban:
Katode adalah Cu (Cu2+/Cu) dengan
harga Eored (cu2+/Cu) = +0,34 volt
Anode adalah Al (Al/Al3+) dengan
harga Eored (Al3+/Al) = -1,66 volt
Maka harga Eosel = Eored
(katode) - Eored (anode)
Eosel = Eored (Cu) - Eored
(Al)
Eosel = +0,34 – (-1,66) = 2,00 volt
Alessandro Volta telah melakukan percobaan
untuk mengukur potensial reduksi beberapa logam. Dari hasil percobaanya,
ditemukan deret logam berdasarkan harga potensial reduksi standarnya yang di
kenal dengan Deret Volta, yakni:
5. Kegunaan
Elektrokimia dalam Kehidupan
Elektrokimia
sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, antara
lain:
a)
Sumber Energi Listrik, seperti Baterai (sel volta, aki,
baterai lithium-ion pada HP dan laptop) dan Sel bahan bakar (fuel cell) pada
kendaraan listrik.
b)
Industri Metalurgi, yakni pada proses elektrolisis untuk
memurnikan logam (misalnya pemurnian tembaga), Ekstraksi logam dari bijih,
seperti aluminium dari bauksit dengan elektrolisis Hall-Héroult.
c)
Pelapisan Logam (Elektroplating) untuk
melapisi
perhiasan atau logam agar lebih tahan karat (contoh: pelapisan besi dengan krom
atau nikel).
d)
Proteksi Korosi, seperti Katoda proteksi pada kapal,
pipa bawah tanah, dan jembatan baja.
e)
Produksi Bahan Kimia, di mana elektrolisis air
menghasilkan gas hidrogen dan oksigen, serta Proses klor-alkali menghasilkan
NaOH, Cl₂, dan H₂.
f)
Bidang Kesehatan dan Lingkungan,
digunakan untuk Alat pacu jantung menggunakan baterai mini dan Sensor
elektrokimia untuk mendeteksi polutan atau kadar glukosa darah.
Daftar Pustaka
Awalia, F.,
Rahaju, E., & Sudiarto, B. (2019). E-Modul Kimia Kelas XII: Sel Volta.
Jakarta: Direktorat Sekolah Menengah Atas, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Harnanto, A.,
& Ruminten. (2009). Kimia 3 untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Johari, J. M.
C., & Rachmawati. (2008). Kimia SMA dan MA untuk Kelas XII. Jakarta:
Erlangga.
Kemendikbudristek.
(2022). Buku Panduan Guru Kimia untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Kemendikbudristek.
(2022). Kimia untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Masterton, W.
L., Hurley, C. N., & Neth, E. (2011). Chemistry: Principles and
Reactions. Belmont, CA: Cengage Learning.
McMurry, J.
E., Fay, R. C., & Fantini, J. (2012). Chemistry. London: Prentice
Hall.
Rahayu, I.
(2009). Praktis Belajar Kimia untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional.
Setiyana.
(2020). Modul Pembelajaran SMA Kimia Kelas XII: Sel Volta dan Aplikasinya
dalam Kehidupan. Jakarta: Direktorat Sekolah Menengah Atas, Direktorat
Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudarmo, U.
(2013). Kimia untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
Sujana, R. M.
H., Nuriman, & Subchan, W. (2025). Buku Ajar Elektrokimia.
Yogyakarta: Deepublish.
Komentar
Posting Komentar